
PURWOKERTO — Kepedulian terhadap lingkungan sekaligus kreativitas tinggi ditunjukkan oleh para anggota ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) Wira SMK Muhammadiyah 3 Purwokerto. Melalui program kerja (proker) kreatif bertajuk pengelolaan sampah plastik, mereka berhasil mengubah limbah botol dan gelas plastik menjadi pundi-pundi rupiah untuk kas internal organisasi.
Program yang diinisiasi sejak awal semester ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan sekolah, tetapi juga mengedepankan prinsip kemandirian dan edukasi daur ulang. Dalam pelaksanaannya, para siswa PMR merancang dan membuat tempat sampah sendiri secara mandiri dengan desain yang sederhana namun fungsional, yang kemudian disebar di beberapa titik strategis di lingkungan sekolah.
Tempat sampah khusus tersebut sengaja disediakan untuk mengumpulkan botol dan gelas bekas minuman warga sekolah. Uniknya, proses pengolahan sampah ini dilakukan secara teliti dan terstruktur. Setelah sampah terkumpul, para anggota PMR melakukan pemilahan secara mendetail menjadi tiga bagian terpisah, yaitu:
- Tutup botol
- Label plastik pembungkus
- Badan botol atau gelas plastik utama
Pemilahan yang teliti ini dilakukan untuk memenuhi standar kualitas dari pengepul barang bekas, sehingga nilai jualnya bisa lebih maksimal. Hasil dari penjualan pemilahan plastik tersebut kemudian dikumpulkan dan dikelola secara transparan untuk memenuhi berbagai kebutuhan internal ekstrakurikuler PMR SMK Muhammadiyah 3 Purwokerto, seperti pengadaan perlengkapan medis, subsidi kegiatan sosial, hingga pengembangan kapasitas anggota.
Di balik kesuksesan berbagai program kreatif dan kemandirian tersebut, Pembina PMR Wira SMK Muhammadiyah 3 Purwokerto, Darsiti, A. Md. Kep., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas perkembangan positif yang ditunjukkan oleh para anggotanya. Selama mendampingi kegiatan ekstrakurikuler, ia melihat transformasi yang luar biasa dari para siswa, mulai dari latihan rutin hingga aksi nyata dalam pelayanan kesehatan di sekolah seperti pengukuran tekanan darah dan pembagian obat tablet tambah darah bagi siswi.
“Dari latihan rutin sampai kegiatan pelayanan di sekolah seperti pengukuran tekanan darah dan pembagian obat tablet tambah darah, saya melihat banyak perubahan. Dari awal yang masih malu-malu, sekarang kalian sudah berani tampil, bisa bekerja sama dalam tim saat evakuasi korban, dan punya rasa tanggung jawab yang tinggi,” ungkap Darsiti.
Ia menilai bahwa nilai-nilai luhur seperti kesetia kawanan, kepemimpinan, dan jiwa kemanusiaan kini telah tertanam kuat di dalam diri para siswa. Keaktifan mereka di berbagai bidang—mulai dari Gerakan Kepalangmerahan (GP), Donor Darah Sukarela (DORAS), Pertolongan Pertama (PP), hingga Perawatan Keluarga (PK)—turut menghidupkan fungsi Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Darsiti juga berpesan agar semangat kesukarelawanan ini tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah saja, melainkan terus dibawa dan diterapkan di tengah keluarga maupun masyarakat luas.
“PMR Wira itu ujung tombak gerakan kepalangmerahan di kalangan remaja. Pembina percaya kalian bisa melanjutkan tugas kemanusiaan dan membawa nama baik SMK Muhammadiyah 3 Purwokerto. Teruslah berlatih, belajar, dan berkontribusi demi masyarakat dan teman sebaya yang lebih baik,” pungkasnya.
Senada dengan hal tersebut, Pembina PMR kedua, Wiedy Prasetyani, S. Pd., turut mengungkapkan rasa bangga dan kekagumannya terhadap dedikasi para anggota PMR Wira.
“Melihat anak-anak PMR Wira bergerak, saya tidak hanya melihat sebuah program kerja yang berjalan sukses, melainkan melihat benih-benih kemanusiaan yang tumbuh subur di dalam diri mereka. Menjadi relawan muda bukan hal yang mudah di tengah kesibukan belajar, namun mereka memilih untuk meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran demi lingkungan sekolah,” ujar Wiedy Prasetyani.
Ia menambahkan, program pengumpulan botol ini sarat akan makna dan filosofi hidup yang mendalam bagi para siswa.
“Melalui program pengumpulan botol ini, mereka mengajarkan kita semua sebuah filosofi penting: bahwa hal-hal kecil yang sering diabaikan dan dianggap sebagai sampah, jika dikelola dengan ketulusan dan kerja keras, mampu berubah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Saya sangat bangga menyaksikan proses pendewasaan, kekompakan, dan kepekaan sosial yang mereka tunjukkan,” imbuhnya.

Semangat dan esensi dari gerakan ini turut ditegaskan oleh Ketua PMR Wira SMK Muhammadiyah 3 Purwokerto, Rara Adelia Saputri dari kelas XII ASKEP B. Menurutnya, kegiatan bank sampah yang dijalankan bukan sekadar urusan membersihkan lingkungan, melainkan wujud nyata dari implementasi Tri Bakti PMR.
“Kegiatan Bank Sampah yang telah kita laksanakan ini merupakan sebuah program yang sangat luar biasa dan membuka mata kita semua. Melalui aksi nyata ini, kami di PMR belajar bahwa kemanusiaan tidak hanya terbatas pada menolong sesama manusia yang sedang terluka, tetapi juga tentang bagaimana kita menyembuhkan bumi yang sedang menderita akibat ego manusia. Kegiatan ini menjadi bukti konkret dari implementasi Tri Bakti PMR, khususnya dalam meningkatkan keterampilan hidup sehat dan berbakti kepada masyarakat,” ungkap Rara.
Ia juga mengajak seluruh warga sekolah untuk terus menjaga konsistensi dalam merawat kebersihan lingkungan serta tidak memandang program ini sebagai kegiatan seremonial semata.
“Sebagai Ketua PMR, saya berpesan dan mengajak seluruh warga sekolah untuk tidak menjadikan kegiatan Bank Sampah ini sebagai seremonial satu hari saja. Mari kita jadikan momentum ini sebagai pemantik konsistensi kita dalam menjaga sanitasi lingkungan. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten; mulailah memilah sampah dari diri sendiri, dari dalam kelas kita, dan dari rumah kita masing-masing dengan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle,” tegasnya.
“Ingatlah bahwa lingkungan yang kotor adalah hulu dari berbagai macam penyakit. Sebagai kader kesehatan remaja, kita semua—bukan hanya anggota PMR saja—memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi garda terdepan dalam mengedepankan pentingnya pengelolaan sampah yang bijak. Mari kita ciptakan sekolah yang sehat, bersih, dan hijau demi masa depan generasi yang akan datang,” tutup Rara.
Melalui aksi nyata pengelolaan sampah plastik yang bernilai ekonomis serta dedikasi tinggi dalam pelayanan kemanusiaan, PMR SMK Muhammadiyah 3 Purwokerto kembali membuktikan diri sebagai wadah pembinaan generasi muda yang kreatif, mandiri, dan berjiwa sosial tinggi.
0 Komentar